span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Najwa Shihab: Sarjana Hukum yang Mencintai Dunia Jurnalistik
Oleh : Ardito Ramadhan
07 Mei 2018

Highlight

Pendekatan pendidikan di keluarga tidak pernah dengan cara-cara yang otoriter. Saya rasa itu sangat mempengaruhi, bagaimana pola didik orang tua ke anak akan mempengaruhi perilaku.

https://www.kinibisa.com/inspirasi/detail/jurnalis/goenawan-mohamad-jurnalis-pecinta-seniNajwa Shihab
Najwa Shihab adalah seorang jurnalis andal yang dikenal lewat program Mata Najwa yang tayang di Metro TV.
Sumber: prokal.co

Kali ini, Kinibisa menceritakan kisah inspiratif Najwa Shihab, seorang presenter televisi kenamaan yang mengaku terjunnya ia dalam dunia jurnalistik merupakan sebuah ‘kecelakaan’. Awalnya, ia justru ingin menjadi seorang hakim. Tak disangka, Najwa jatuh hati pada profesi yang dilakoninya ketika magang belasan tahun lalu.



"Waktu itu yang paling mendukung ayah saya. Apa pun untuk pendidikan akan diperbolehkan. Dalam usia itu pun beliau sudah memberikan kepercayaan, dan Alhamdulillah saya bisa menjaga kepercayaan itu."

Utamakan Pendidikan dan Agama
 

Najwa Shihab lahir di Makassar, 16 September 1977, dari pasangan Moh. Quraish Shihab dan Fatmawati Assegaf. Najwa Shihab yang akrab dipanggil Nana lahir dari keluarga pendidik yang religius. Kakeknya, Habib Abdul Rahman adalah mantan Rektor Universitas Islam Negeri Makassar. Sementara ayah kandungnya merupakan seorang pendidik dan ulama yang sempat menjabat sebagai Menteri Agama periode tahun 1998.

Sejak kecil Nana sudah diberikan pendidikan agama yang kuat dengan dimasukkan ke dalam sebuah TK Al-Quran. Masih lekat dalam ingatannya ketika gurunya memukul Nana dengan kayu kecil ketika ia membuat kesalahan. Salat Maghrib dan tadarus Al Quran menjadi ritual wajib keluarga Shihab. “Jadi berjamaah Maghrib, ngaji Al Quran, lalu ratib Haddad bersama itu ritual keluarga saya sampai SMU,” kata Nana dikutip dari tokohindonesia.com[1]

dibesarkan keluarga religius
Nana dibesarkan di tengah keluarga yang religius. Ayahnya, Quraish Shihab, adalah seorang ulama yang sempat menjadi Menteri Agama pada era Orde Baru.
Sumber: nulis.co.id

Selain agama, keluarga Shihab juga menekankan pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya. “Pendekatan pendidikan di keluarga tidak pernah dengan cara-cara yang otoriter. Saya rasa itu sangat mempengaruhi, bagaimana pola didik orang tua ke anak akan mempengaruhi perilaku," kata Nana. Semasa bersekolah, Nana dikenal sebagai murid yang cerdas. Ketika duduk di bangku kelas 2 SMA, ia sempat mendapat kesempatan mengikuti program pertukaran pelajar ke Amerika Serikat berkat prestasi akademiknya.

Nana menuturkan ketika itu sempat terjadi perdebatan keluarga mengenai kepergian Nana ke Negeri Paman Sam di usia 16 tahun. Namun, akhirnya ia memperoleh kepercayaan keluarga untuk menimba ilmu di sana. “Waktu itu yang paling mendukung ayah saya. Apa pun untuk pendidikan akan diperbolehkan. Dalam usia itu pun beliau sudah memberikan kepercayaan, dan Alhamdulillah saya bisa menjaga kepercayaan itu,” kenangnya.

Selepas SMA, Nana memilih berkuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Ketika itu, ia belum terpikir sama sekali untuk berkarier sebagai jurnalis. Sebaliknya, ia bercita-cita menjadi seorang pengacara atau hakim, khususnya hakim anak. Keinginan menjadi hakim anak semakin menguat ketika ia memilih hukum anak sebagai tema skripsinya. Ia melihat kondisi hukum tentang anak sangat kurang. Seharusnya, pendekatan terhadap anak sebagai pelaku kejahatan mulai dari pemeriksaan hingga diadili di pengadilan haruslah berbeda.[2]

“Nyemplung” di Dunia Jurnalistik
 

terjun ke jurnalis
Najwa Shihab memilih terjun dalam dunia jurnalistik setelah lulus dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia.
Sumber: wordpress.com

Kendati lulus sebagai sarjana hukum, Nana tidak melanjutkan kariernya di bidang hukum. Ia justru memilih untuk terjun dalam dunia jurnalistik. Ia mengaku baru bersentuhan dengan dunia jurnalistik pada akhir masa kuliahnya. “Ngga sih, saya terjun ke dunia ini (jurnalistik) karena kebetulan,” kata Najwa. Hal ini bermula ketika Najwa mengikuti program magang sebagai reporter di stasiun televisi RCTI pada tahun 1999.

Saat magang selama tiga bulan di stasiun televise swasta tersebut, Nana langsung dipercaya untuk meliput peristiwa selayaknya seorang reporter sungguhan. Misalnya, ia ditunjuk untuk mewawancarai Kofi Annan, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-bangsa waktu itu. Ia juga meliput kegiatan mudik karena secara kebetulan banyak reporter RCTI yang mengambil cuti menjelang lebaran.

baca juga: kisah inspiratif Daniel Mananta

Kebetulan pula, di saat yang sama Andy F Noya juga ditipkan Surya Paloh, pemilik Metro TV, untuk ‘magang’ sebagai Pemimpin Redaksi RCTI. “Bang Andy bilang nanti akan ada televisi berita baru. Saya disuruh kirim lamaran ke Metro TV. Saya kirim ternyata diterima, saya reporter pertama,” kata Nana menceritakan kisahnya bergabung dalam stasiun tv berlambang burung elang itu.

Bagi Nana, Andy F Noya sendiri merupakan sosok idolanya bersama jurnalis televise lainnya, Desi Anwar. Menurutnya, dua figur tersebut memiliki gaya masing-masing yang khas. “Desi itu konsisten di dunia jurnalistik dan kemampuannya untuk mengeksplore narasumber dengan gaya sendiri itu menarik menurut saya. Kalau Bang Andy kemampuan memilih angle,” kata Najwa kepada hukumonline.com[3].

Selain itu, ia juga mengidolai beberapa presenter luar negeri seperti Oprah Winfrey, Barbara Walters, dan Rachel Maddow. “Saya mengambil sedikit-sedikit (style) dari mereka. Nggak pernah secara keseluruhan. Kayak Rachel Maddow, dia itu pintar dan lucu, witty dan spesialis politik,” kata perempuan yang berstatus sebagai Duta Baca Indonesia ini melanjutkan.

Sebagai pembawa acara, Najwa berambisi menjadi seperti Oprah Winfrey. Ia sangat mengagumi sosok Oprah karena berasal dari kelas kecil dan termarjinalkan. Menurutnya, semua orang yang bekerja di televisi pasti ingin seperti Oprah. Sempat dicap sebagai warga negara kelas dua, kini sosok Oprah masuk dalam daftar orang yang berpengaruh di Amerika. Sampai-sampai presiden ingin datang ke talkshow-nya.[4]

Dari Tsunami Aceh Hingga Mata Najwa
 

mata najwa
Program Mata Najwa yang tayang di Metro TV sejak 2009.
Sumber: kompasiana.com

Nama Najwa Shihab meroket ketika ia meliput musibah tsunami Aceh pada 2004 silam. Saat itu, ia dipuji berbagai pihak karena kegarangannya dalam menyuarakan kepentingan publik dan korban tsunami Aceh. Sebagai tim pertama yang meliput, ia melihat betapa mengerikan nasib Aceh, mayat bergelimpangan di mana-mana dan ia melaporkan pula betapa lambannya pemerintah dalam mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut.

Liputan tersebut dikenal sebagai “Shihab vs Shihab”. "Najwa mengkritik penanganan bencana yang dilakukan pemerintah yang diwakili oleh Menko Kesra Alwi Shihab," kata Effendi Ghazali, pakar komunikasi Universitas Indonesia. Bagi Nana sendiri, liputan tsunami Aceh merupakan liputan yang emosional bagi dirinya. "Karena itu mengubah saya, bukan saya sebagai wartawan, tetapi terlebih saya sebagai manusia," katanya. Meski begitu, ia tidak kehilangan daya kritis dan ketajamannya sebagai jurnalis.

Berkat liputannya tersebut, ia dianugerahi penghargaai PWI pada 2 Februari 2005. Selain itu, pada Hari Pers Nasional ia juga dianugerahi HPN Award 2005 di Pekanbaru pada 9 Februari 2005. Liputan dan laporannya mengenai bencana alam yang menelan korban hingga ratusan ribu korban jiwa itu dinilai memberi andil bagi meluasnya kepedulian dan empati masyarakat luas terhadap tragedi kemanusiaan itu.

Setelah liputan tsunami Aceh, karier Najwa di Metro TV semakin cemerlang. Ia sempat dipercaya menjadi news anchor program prime time Metro TV antara lain Metro Hari Ini dan Suara Anda. Sepuluh tahun bergelut di bidang jurnalistik, Najwa akhirnya diberi kepercayaan untuk mempunyai program televisi sendiri, yaitu Mata Najwa. Melalui acara Mata Najwa, ia berharap pemirsa bisa menitipkan pesan. Bukan hanya mata secara fisik, tapi ada nilai lain di balik Mata Najwa yaitu mata hati dan mata akal.

"Lewat 'Mata Najwa' kita melihat yang belum pernah dilihat. Mungkin sudah pernah dilihat tapi melalui sudut mata berbeda," kata lulusan Master Hukum Media Melbourne Law School tersebut menambahkan. Melalui program ini, Nana berkesempatan untuk mewawancarai berbagai tokoh nasional mulai dari presiden, menteri, anggota DPR, dan kepala daerah. Selain menjadi presenter Mata Najwa, ia pun sempat menjabat sebagai Wakil Pemimpin Redaksi Metro TV.

"Ada banyak kesempatan dan kepercayaan Metro yang diberikan kepada saya," kata Nana kepada BBC Indonesia.[5] Sebelum menjadi Wapemred Metro TV, istri Ibrahim Assegaf ini sempat menjadi menjadi presenter, assisten produser, producer dan executive producer, hingga program owner. Baginya, posisi Wapemred yang disandangnya merupakan kesempatan untuk pay back apa yang selama ditanamkan dan diberikan Metro TV kepadanya.

Jurnalis dengan Banyak Piala
 

jurnalis banyak piala
Najwa Shihab memamerkan sebuah piala yang ia dapat pada ajang Panasonic Gobel Awards 2016.
Sumber: wanita.me

Sepak terjang Najwa Shihab dalam dunia jurnalistik membuatnya diganjar berbagai penghargaan antara lain[6]

  • Insan Pertelevisian Terbaik dalam ajang Panasonic Gobel Awards (2016)
  • The Influential Woman of The Year dari Elle Magazine (2016)
  • Most Progressive Figure oleh Forbes Magazine (2015)
  • Presenter Pemilukada Terbaik oleh Badan Pengawas Pemilu (2015)
  • Young Global Leader oleh The World Economic Forum (2011)
  • Australian Alumni Award for Journalism and Media (2009)
  • National Award for Journalistic Contribution to Democracy (2010)
  • Jurnalis Terbaik Metro TV 2006
  • Young Global Leader (YGL) 2011 dari World Economic Forum (WEF)

Meski tah dianugerahi berbagai piala, Najwa masih memiliki keinginan untuk melanjutkan studinya lagi ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu S3. Ia merindukan untuk kembali ke kampus, berdiskusi dan membaca buku. Ia juga menginginkan ada waktu luang untuk membaca buku-buku yang ia sukai. “Baca buku, nggak ada waktu. Sekarang aja setiap hari saya harus baca minimal 5 koran, belum majalah,” kata perempuan yang juga Duta Baca Indonesia ini.

baca juga: kisah inspiratif Goenawan Mohamad

Ketika diminta tips-tips sukses menjadi jurnalis, Nana menyebut tiap jurnalis harus tahan banting. “Saya tidak pernah take no for an answer. Nah, tahan bantingnya wartawan ya itu. Kalau belum dapat, ya jangan pulang,” katanya dengan tegas.[7] Ia juga menyatakan pernah mengalami tekanan dan ancaman ketika berkecimpung di dunia jurnalistik namun baginya itu belum apa-apa bila dibandingkan pengalaman jurnalis lain. “Saya rasa malu kalau ancaman saya dibandingkan dengan teman yang di daerah. Itu hanya bagian warna-warni hidup saya sebagai jurnalis di Indonesia,” katanya melanjutkan.

Najwa Shihab telah membuktikan bahwa karier terbaik untuk kita dapat dimulai dan ditemukan kapan saja. Bagaimana dengan kalian? Ayo menjadi bagian dari #GenerasiKompeten bersama Kinibisa!


[1] http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/286-direktori/4417-menjadi-mata-bagi-pemirsa
[2] http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt53b3d86353f28/najwa-shihab--brbercita-cita-jadi-hakim--nyemplung-jadi-jurnalis
[3] http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt53b3d86353f28/najwa-shihab--brbercita-cita-jadi-hakim--nyemplung-jadi-jurnalis
[4] http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/286-direktori/4417-menjadi-mata-bagi-pemirsa
[5] http://www.bbc.com/indonesia/laporan_khusus/2014/03/140307_bincang_najwa_shihab
6] https://id.wikipedia.org/wiki/Najwa_Shihab
[7] http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt53b3d86353f28/najwa-shihab--brbercita-cita-jadi-hakim--nyemplung-jadi-jurnalis