span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Dewi Lestari: Penulis dari Keluarga Pecinta Seni
Oleh : Ardito Ramadhan
02 Mei 2018

Highlight

Ini profesi langgeng, saya bisa nulis selama pikiran masih berfungsi.

Dewi Dee Lestari
Dewi Lestari Simangunsong atau biasa dikenal dengan Dee adalah seorang seniman multitalenta yang kerap menulis novel dan lagu-lagu ternama.
Sumber: alibaba.kumpar.com

Namanya terkenal di tengah dunia hiburan sebagai penulis novel dan lirik lagu ternama. Bakat Dewi Lestari dalam kedua bidang itu rupanya telah tercium saat ia masih duduk di bangku sekolah. Kini, perempuan asal Bandung itu juga mulai berkarya di bidang film layar lebar. Penasaran dengan kisah Dewi Lestari yang inspiratif? Mari simak bersama-sama di Kinibisa!



"Saya tidak pernah punya inspirator tunggal, tapi semua aspek kehidupan kalau jeli diamati bisa jadi inspirasi. Kunci banyak inspirasi adalah jeli mengamati kehidupan."

Masa Kecil Dewi Lestari
 

Dewi Lestari yang biasa dikenal dengan nama Dee Lestari lahir pada 20 Januari 1976 di Bandung, Jawa Barat. Ia merupakan anak keempat dari lima bersaudara. Seperti dirinya, tiga saudara kandung Dee juga mempunyai aktivitas di bidang seni. Kakak perempuannya, Key Mangunsong, adalah seorang sutradara dan penulis skenario. Kakak perempuannya yang lain, Imelda Rosalin ialah seorang pianis dan penyanyi jazz. Sementara adiknya, Arina Ephiphania adalah vokalis grup band Mocca.

Minat pada dunia seni yang menjangkiti Dee dan saudara-saudaranyaagaknya berasal dari ayahnya, Yohan Simangunsong, pensiunan tentara yang pernah belajar piano secara otodidak. Meski akrab dengan dunia seni dan kelak akan menekuni profesi yang erat hubungannya dengan dunia seni, Dee rupanya tidak mempelajari seni secara khusus.

Seperti anak-anak pada umumnya, Dee dikirim orang tuanya untuk bersekolah di sekolah umum. Dee memulai pendidikannya di SDN III Banjarsari Bandung yang dilanjutkannya dengan bersekolah di SMPN 2 Bandung. Masa putih-abu Dee dihabiskan di SMAN 2 Bandung dan melanjutkan kuliah di Universitas Parahyangan Bandung mengambil jurusan Hubungan Internasional. Pada 1998, Dee berhasil lulus dari sana dengan menyandang gelar Sarjana Politik.

keluarga seni
Dewi tumbuh dan besar di keluarga yang menggemari seni.
Sumber: bp.blogspot.com

Perkenalan Dee dengan dunia penulisan juga pun dimulai ketika ia masih duduk di bangku sekolah. Sejak kecil, Dee memang telah gemar menulis. Saat duduk di bangku kelas 5 SD, Dee bercita-cita suatu saat dapat melihat buku ciptaannya terpajang di rak toko buku ternama. Untuk memulai impiannya itu, ia langsung membeli sebuah buku tulis dan mengisi buku itu dengan cerita karangannya sampai halaman terakhir.

Memasuki usia remaja, Dee mulai menulis beberapa cerita pendek yang dikirimnya ke berbagai majalah dan penerbitan. Namun, Dee mesti kecewa karena tulisannya selalu ditolak. Hasil serupa juga diterima Dee ketika ia selalu gagal dalam mengikuti kompetisi menulis. Akibatnya, ia pun frustasi dan merasa cita-citanya membuat buku tak akan tercapai. Karena itu pula, Dee hanya berani memamerkan karya-karyanya ke orang-orang terdekatnya.

Pada 1993, Dee kembali mengikuti kompetisi menulis yang diselenggarakan majalah Gadis. Namun, kali itu ia merasa tidak percaya diri sehingga menggunakan nama adiknya sebagai samaran. Tak disangka, tulisan berjudul ‘Ekspresi’ milik Dee justru berhasil memenangkan kompetisi itu.

Beberapa waktu kemudian, kakak tertua Dee, menunjukkan sebuah karya Dee berjudul Rico de Coro kepada Hilman Hariwijaya, penulis Indonesia ternama yang menciptakan cerita pendek berjudul Lupus. Hilman rupanya menyukai cerita itu dan mengirimkannya ke majalah Mode, majalah yang saat itu amat digemari remaja Indonesia. Dee pun dipercaya untuk menulis cerita bersambung di majalah itu selama tiga tahun.

Karir Menulis Dee
 

gemar menulis
Dee memamerkan salah satu novel ciptaannya.
Sumber: aws-dist.brta.in

Cita-cita Dee untuk menelurkan buku pertamanya semakin dekat dengan kenyataan pada tahun 2000. Saat itu, ia tengah menulis sebuah naskah yang ia percayai dapat menjadi buku pertamanya. Meski begitu, ia sempat merasa tidak yakin kalau naskah ciptaannya dapat menarik bagi penerbit besar. Oleh sebab itu, Dee hanya menjadikan naskah itu sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke-25.

Naskah itu akhirnya dibukukan dengan judul Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh tersebut dan dipublikasikan secara luas pada Januari 2011. Dee sendiri mengambil peran ganda antara penulis dan penerbit sekaligus. Alasannya, ia tidak ingin naskahnya diedit oleh orang lain. Dee juga mesti merogoh koceknya untuk memasarkan buku pertamanya itu.

Dee mengaku buku tersebut terinspirasi dari pengalaman pribadinya terkait spiritualitas yang dipoles dengan cerita fiksi. “Tapi siapa sih yang mau percaya dengan omongan wanita umur 23 tahun yang mau sharing soal spiritualitas. Menulis lambat laun menjadi wadah aku untuk mengungkapkan ide-ide besar dan jauh fleksibel,” katanya kepada Detik[1].

Setelah dirilis, Supernova rupanya berhasil menjadi sensasi. Buku ini mencatat rekor sebagai buku dengan penjualan tercepat saat itu. Menurut situs resminya[2], buku ini juga berhasil terjual sebanyak tujuh ribu eksemplar dalam waktu 14 tahun. Berkat bukunya itu, popularitas Dee sebagai penulis pun mulai meroket.

Sukses dengan buku pertamanya, Dee mengembangkan novel Supernova hingga memiliki lima sekuel yang dirilis satu per satu mulai 2002 hingga 2016. Heksalogi Supernovapun memperoleh sambutan positif dari masyarakat pada tiap perilisannya. Bahkan, novel pamungkas yang berjudul Intelegensi Embun Pagi terjual sepuluh ribu eksemplar lewat sistem pre-order.

Selain Supernova, Dee juga merilis buku-buku lain yang tak kalah terkenal. Buku Filosofi Kopi misalnya, buku yang berisi kumpulan cerita pendek itu terpilih sebagai The Best Literary Work 2006 versi Majalah Tempo. Pda tahun yang sama, buku ini juga masuk dalam Top 5 Khatulistiwa Literary Award.

Berbeda dengan buku-bukunya yang mempunyai tema ‘berat’, Dee merilis novel Perahu Kertas pada 2010. Dee bercerita ia membuat novel ini karena menyukai genre penulisan fiksi young adult. Selain itu, novel Perahu Kertas juga dapat menjadi bukti bahwa Dee bukanlah penulis yang hanya menguasai satu genre penulisan.

Tak hanya menjadi ajang pembuktian Dee, novel Perahu Kertas juga mempunyai keunikan tersendiri. Awalnya, novel ini dirilis sebagai novel digital pertama di Indonesia yang penyebarannya didukung oleh sebuah perusahaan telekomunikasi. Sementara, versi cetaknya baru diterbitkan setahun setelahnya. Novel Perahu Kertas tercatat sebagai novel Dee yang paling sukses dari segi penjualan.

Di luar itu, Dee juga sempat merilis dua buku yaitu Rectoverso dan Madre. Rectoverso memiliki keunikan tersendiri karena buku ini berisi sebelas cerita pendek yang serupa dengan sebelas lagu ciptaanya. Buku ini disebut sebagai karya kolaborasi pertama antara musik dan dunia literatur di Indonesia. Rectoverso dianggap menawarkan pengalaman multidimensi dengan menggabungkan audio lewat alunan musik, visual melalui ilustrasi buku, dan tentu saja sastra sebagai isi buku.

Seperti penulis-penulis novel lainnya, Dee tentu pernah bermimpi agar buku-bukunya difilmkan. Adalah suatu kebanggaan, berkah dan anugerah ketika buah karya seorang kreator diformat ulang oleh kreator lain,” kata Dee kepada Tempo.[3]Beberapa buku Dee yang telah difilmkan antara lain Perahu Kertas, Filosofi Kopi, dan Madre.Film-film itu pun kerap masuk dalam daftar film terlaris di Indonesia serta memenangkan berbagai penghargaan.

Tips Menulis ala Dee
 

memiliki kebiasaan sendiri
Dewi memiliki kebiasaan tersendiri ketika sedang menulis, yaitu dengan mengurungi diri di rumah bersama anjing peliharaannya.
Sumber: revi.us

Sebagai penulis ternama, Dee tentu mempunyai kebiasaan tersendiri ketika menulis. Misalnya, ketika menulis Supernova edisi pertama ia mengurung diri di rumah bersama dua ekor anjing yang ia pelihara. Selama berbulan-bulan ia menatap layar komputer hingga jam tidurnya tak menentu. Oleh sebab itu, Dee menilai seorang penulis mesti mempunyai stamina yang terjaga.

Sementara itu, Dee mempunyai anggapan bahwa menulis itu sama seperti olahraga. “Tidak ada yang langsung berotot dalam sehari,” kata Dee kepada Antara. Artinya, menulis tidak dapat dilakukan secara instan tapi ada tahap-tahap yang mesti diikuti. Baginya pula, menulis adalah sebuah perjalanan panjang. “Ini profesi langgeng, saya bisa nulis selama pikiran masih berfungsi,” katanya.

baca juga: Tips Membuat Viral Konten Media Sosial

Dee sendiri mempunyai beberapa tips yang bisa ditiru oleh mereka yang ingin menulis novel. Ia mempunyai saran bagi para penulis pemula untuk sering memperhatikan lingkungan sekitar. Menurutnya, inspirasi dapat datang dari mana saja, terutama lingkungan sekitar. “Saya tidak pernah punya inspirator tunggal, tapi semua aspek kehidupan kalau jeli diamati bisa jadi inspirasi. Kunci banyak inspirasi adalah jeli mengamati kehidupan,” katanya kepada Antara[4].

Ketika tulisan telah selesai dibuat, Dee berpesan kepada para penulis agar tidak takut gagal. Para penulis juga mesti percaya diri dengan tulisan yang telah mereka buat. “Tidak masalah jika tulisan kamu dikritik orang. Menjadi seorang penulis sekalipun harus berani gagal. Ini adalah salah satu fase kamu berproses menjadi lebih baik jika kamu mau mengambil hikmah dan lebih rutin untuk meningkatkan skill menulis kamu,” kata Dee dikutip dari Tribun News.[5]

Setelah itu, Dee mengatakan bahwa setiap penulis mesti mempunyai target yang ingin dicapai. Menurutnya, hal itu perlu dimiliki oleh para penulis agar tetap produktif serta tak mudah puas. “Yang penting adalah seorang penulis harus tahu bagaimana cara menangani kesuksesan dan tahu kemana dirinya harus melangkah,” kata Dee.

Musik dan Dewi Lestari
 

bersama saudaranyaDewi Lestari bersama kedua saudaranya,  Imelda Rosalin dan Arina Ephipania, bernyanyi pada acara yang diselenggarakan di Pacific Place, Januari 2015.
Sumber: azureedge.net

Seperti yang telah diungkap di atas, sosok Dee tak hanya aktif menulis novel tapi juga rajin menulis lirik lagu. Perkenalannya dengan dunia musik juga telah dimulai sejak ia kecil. Ketika duduk di bangku sekolah, Dee sudah sering tampil di atas panggung untuk bernyanyi, baik sebagai penyanyi solo, anggota vocal group atau anggota band sekolah.

Karir musik Dee dimulai ketika ia lulus SMA pada 1993. Bersama rekannya, Sita Nursanti, Dee bekerja sebagai penyanyi latar profesional dari musisi-musisi ternama seperti Iwa K, Java Jive, Project Pop, dan Chrisye. Penampilan Dee dan Sita rupanya menarik perhatian dua orang produser musik yaitu Adi Adrian dan Adjie Soetama. Kedua produser itu mengajak Dee dan Sita untuk membentuk sebuah trio. Belakangan, Rida Farida melengkapi trio tersebut.

Ketiganya pun sepakat untuk membentuk trio yang dinamakan RSD. Nama RSD berasal dari inisial tiap punggawanya, Rida, Sita, dan Dewi. Lagu berjudul Antara Kita yang dciptakan Andre Hehanusa dan Soetama menjadi lagu pertama yang dibuat trio ini. Lagu yang sama juga dijadikan tajuk album perdananya yang dirilis pada 1995.

Setelah itu, RSD merilis album kedua dan ketiganya masing-masing pada 1997 dan 1999. Pada 2002, trio ini meluncurkan album terakhirnya yang bertajuk The Best of RSD. Bergabungnya Dee dalam RSD semakin mematangkan keahliannya dalam menulis lagu. Sebelumnya, ia sudah terbiasa menulis lirik lagu sejak berusia sembilan tahun.

Lagu ciptaan Dee yang pertama kali populer di tengah masyarakat adalah lagu berjudul Firasat yang dinyanyikan Marcel. Marcel sendiri kelak akan menjadi suami Dee meski mereka berpisah beberapa waktu kemudian. Selain Marcel, Raisa juga pernah membawakan Firasat ketika ia mengisi soundtrack film Rectoverso. Dee pun sempat menyanyikan lagu ini dalam album Rectoverso.

baca juga: kisah inspiratif Andrea Hirata

Pada 2006, Dee merilis album solo perdananya yang seluruh lagunya ditulis dalam Bahasa Inggris. Dua tahun kemudian, ia menelurkan album Rectoverso yang merupakan proyek kolaborasi dengan novel berjudul sama yang ia tulis. Dalam album itu, setidaknya ada beberapa lagu yang cukup digemari masyarakat sepertiMalaikat Juga Tahu yang dinyanyikan oleh Glenn Fredly serta Peluk yang dibawakan vokalis band Alexa, Aqi.

Dee memang kerap turun langsung dalam menulis lagu-lagu soundtrack filmnya. Ketika novel Perahu Kertas difilmkan, Dee menulis Perahu Kertas dan Tahu Diri yang dinyanyikan oleh Maudy Ayunda, pemeran utama film yang rilis pada 2012 itu. Sepanjang kariernya sebagai penulis lagu, Dee telah berkolaborasi dengan berbagai penyanyi ternama seperti Kahitna, Yovie Widianto, dan NOAH.

Lewat kisah Dee di atas, kita dapat mengetahui bahwa novel yang kitabaca dan lagu yang kita dengar telah melalui proses penciptaan yang tak mudah. Dee juga bisa menjadi inspirasi kita semua yang ingin berkarya dan mengajarkan kita untuk berani menghadapi kegagalan. Simak kisah-kisah inspiratif dari tokoh lainnya dalam Kinibisa!


[1]https://hot.detik.com/art/3153644/berawal-dari-trilogi-dee-lestari-beberkan-inspirasi-novel-supernova
[2]http://deelestari.com/biography/
[3]https://m.tempo.co/read/news/2013/03/27/111469618/dee-lestari-bangga-bukunya-difilmkan
[4]http://www.antaranews.com/berita/368420/cara-dewi-lestari-cari-inspirasi
[5]http://www.tribunnews.com/tribunners/2015/11/22/resep-sukses-menjadi-penulis-ala-dewi-dee-lestari?page=2