span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Andre Surya: Pecandu Imajinasi
Oleh : Nanda Aulia Rachman
27 April 2018

Highlight

Lulusan sekolah desain dalam negeri pun memilih berkarier di luar Indonesia. Ya karena godaan penghasilan yang besar.

Andre Surya
Seorang digital artist asal Indonesia yang mempunyai segudang pengalaman internasional di bidang tersebut. 
Sumber: vistaeducation.com

Kecanduan bermain video game seringkali dianggap sebagai satu hal yang buruk di mata masyarakat, terutama orang tua. Namun, tidak semua hal yang terlihat buruk benar-benar buruk apa adanya. Mungkin kita hanya perlu menggeser sudut pandang kita dan melihat peluang, potensi dan sisi positif dari hal tersebut. Dengan semangat ini, Kinibisa mengangkat seorang tokoh inspiratif di dunia animasi digital, Andre Surya.



"Kami ingin murid datang ke sini karena merasa ingin menciptakan atau membuat sesuatu. Berkarya kreatif itu tidak bisa dipaksa, harus dari kemauan sendiri."

Ketertarikan dengan Grafis 3D dan Visual Effects
 

Lelaki asal Jakarta ini menghabiskan sebagian besar masa kecilnya di Jakarta.Andre mengakui bahwa ketertarikannya dengan dunia 3D muncul saat ia duduk di sekolah menengah pertama. “Saya masih ingat jelas saat kucing-kucingan tengah malam dengan orang tua demi bermain video game,” jelas Andre dikutip dari laman web ESDA (07/04/2017). Ia mengakui dirinya bahkan nekat mencuri waktu dari orangtuanya untuk bermain game dan mempelajari desain grafis 3D.

Hobinya bermain game membawa dirinya untuk mendalami Desain Komunikasi Visual di Universitas Tarumanegara (UNTAR). Ia juga mendapatkan kesempatan untuk bekerja di Polaris 3D, sebuah perusahaan advertising dan architectural visualization di Jakarta pada tahun 2004.

Karena kesibukannya, ia memutuskan untuk berhenti berkuliah di UNTAR dan melanjutkan karirnya di Polaris. Setelah dua tahun lebih bekerja untuk perusahaan tersebut, Andre memutuskan untuk mengambil gelar diploma di bidang film dan special effects di Vanarts, Vancouver, Kanada.

Andre tak perlu waktu lama untuk menyelesaikan studinya di Kanada. Ia mendapatkan gelar diplomanya dalam satu tahun. Pengetahuan dan keterampilan 3D-nya sudah banyak ia pelajari secara otodidak sejak sekolah menengah atas. Setelah dari Kanada, lelaki keturunan tiongkok ini menetapkan pilihan untuk bekerja di Industrial Light and Magic (ILM) Lucasfilm di Amerika Serikat, salah satu perusahaan animasi dan visual effects terbesar yang diprakarsai George Lucas.

Model 3D
Model 3D di film Transformer Revenge of The Fallen dan Iron Man 2 merupakan hasil buah karya Andre.
Sumber: bp.blogspot.com

Petualangan di Lucasfilm
 

Andre Surya menjadi pemuda Indonesia pertama yang menapakkan kaki di tim Digital Artist ILM Lucasfilm. Pencapaian hebat pastinya tak diraih dengan mudah. Andre sendiri dipindahkan pendaftarannya ke Lucasfilm Singapura karena permasalahan visa. Menurutnya seluruh proses rekrutmen mengambil waktu sekitar enam bulan.

Digital artist mengerjakan banyak hal, seperti;

  • Modelling, proses pembuatan model 3D
  • Layout, proses matching camera CG (computer graphics) dengan background aslinya
  • Lighting, proses kreatif agar grafis 3D yang dihasilkan terlihat menarik dan natural dengan background aslinya dalam jangkauan posisi cahaya
  • Compositing, proses penyatuan semua elemen yang ada

Andre menjelaskan bahwa setiap film rata-rata membutuhkan 70 digital artist, apalagi jika film itu berskala besar. “Iron Man terbang adalah karya saya pertama kali,” tuturnya di laman web ESDA (07/04/2017). Selain Iron Man 2, Andre telah malang melintang memegang berbagai proyek film dan animasi besar saat berada pada panji yang terletak di Singapura tersebut.

somewhere in the sky
Somewhere In The Sky, salah satu hasil goretan tangan Andre yang berhasil mencetak apresiasi dan prestasi.
Sumber: wordpress.com

Karya-karyanya selain diapresiasi oleh industri juga diperhatikan oleh pengamat dan masyarakat secara umum. Ia telah mendapatkan beberapa penghargaan berkat kegemilangan karyanya. Gambarnya yang berjudul Somewhere in The Sky memenangkan Excellence Award di buku Elemental 2 terbitan Ballistic Publishing Award dan Best Artwork Awards di Indocg Showoff Book. Karya ini juga ditampilkan di CGOVERDRIVE, konferensi Computer Graphic terbesar di Asia. Gambar lainnya, City of Enhasa yang menunjukkan sebuah kerajaan di atas langit berhasil meraih juara satu di Future World Contest.

Enspire Studio dan ESDA


Andre bersama murid
Andre bersama murid-muridnya di ESDA.
Sumber: amazonaws.com

Setelah berkarir hampir selama lima tahun, ia memutuskan untuk kembali ke Indonesia pada tahun 2012. Bersama dengan kedua temannya, ia membangun sebuah studio 3D bernama Enspire Studio di Indoesia. Andre menganggap bahwa sebenarnya Indonesia mempunya potensi yang besar untuk menjadi pemain besar di industri animasi jika para digital artist asal Indonesia mau pulang dan berkarya bagi tanah air

Enspire Studio sendiri merupakan perwujudan dari ambisi Andre yang belum tercapai hingga saat ini, yakni membuat featurefilm yang mengangkat kebudayaan Indonesia. “Step by step. Setelah perusahaan stabil kita akan wujudkan mimpi menggarap film berkualitas. Kita coba durasi terkecil dan meningkat sampai durasi 90 menit,” jelas Andre dikutip dari laman web ESDA (07/04/2017). Andre keluar dari zona nyamannya dengan menanggalkan pekerjaannya di lucasfim dan membangun sebuah perusahaan sendiri.

Berbagai proyek telah Enspire tangani, baik dari industri hiburan sampai dengan perusahaan korporasi. Lelaki berumur 33 tahun ini mengakui menemui beberapa kesulitan dalam menjalankan bisnis ini. Hal yang paling menjemukan baginya adalah kurangnya sumber daya manusia yang berkualitas.

Menurutnya, kebanyakan Digital Artist dari Indonesia setelah lulus pendidikan memilih bekerja di luar negeri karena penghasilannya lebih besar. “Lulusan sekolah desain dalam negeri pun memilih berkarier di luar Indonesia. Ya karena godaan penghasilan yang besar,” ungkap Andre di laman web ESDA (04/07/2017)

Karena permasalahan itu juga dia membuat sebuah wadah pelatihan untuk desain grafis dan animasi 3D berstandar internasional, Enspire School of Digital Arts pada tahun 2013. Instruktur dan mentor yang berdedikasi didukung kombinasi kurikulum e-learning dirancang secara khusus untuk mencetak para digital artist professional.

baca juga: kisah inspiratif Danau Maulana

Andre juga membuka kelas bagi anak-anak jalanan yang tidak kenal dengan animasi dalam permainan game 3D sebagai bentuk pengabdiannya untuk masyarakat. Di ESDA, kursus dilakukan tidak dengan sistem kelas, tapi sistem tingkat—hingga tingkat delapan. Setiap siswa diharuskan untuk membuat satu portfolio untuk mendapatkan kenaikan tingkat. “Kami ingin murid datang ke sini karena merasa ingin menciptakan atau membuat sesuatu. Berkarya kreatif itu tidak bisa dipaksa, harus dari kemauan sendiri,” papar Andre dilansir dari SWA (11/04/2016)

Menurutnya lelaki yang hobi bermain bola ini, ESDA juga dapat menjadi obat bagi mereka yang kecanduan video game. Ia mengungkapkan pendapatnya ini berdasarkan pengalamannya sendiri. Menurutnya, banyak dari muridnya yang merupakan siswa home schooling yang mempunyai kecanduan akut bermain game. Alhasil, banyak dari mereka yang telah menyelesaikan tingkat enam mendapat kesempatan magang dan dapat memberikan karya dan penghasilan bagi diri mereka sendiri pada usia muda.

Andre Surya merupakan salah satu pemuda Indonesia yang berhasil mengubah hobinya yang dianggap negative oleh banyak orang menjadi sebuah karir dan karya yang dapat memberikan kontribusi nyata bagi dirinya dan tanah air. Jadi bagian dari generasi kompeten layaknya Andre Surya, bersama Kinibisa.